GURU DALAM PERSPEKTIF ISLAM : TRADISI DAN SUBSTANSI DALAM BERAGAMA, KAJIAN GURU DALAM PERSPEKTIF TASAWUF
Tema : "GURU DALAM PERSPEKTIF ISLAM : TRADISI DAN SUBSTANSI DALAM BERAGAMA, KAJIAN GURU DALAM PERSPEKTIF TASAWUF."
Minggu, 10 Oktober 2021 BEM STAI MUSLIM ASIA AFRIKA mengadakan acara webinar peringatan hari Guru International dengan topik "Guru dalam perspektif Islam : Tradisi dan Substansi dalam beragama." Di ikuti oleh berbagai kalangan baik dosen maupun mahasiswa dan kalangan umum dengan moderator Ibu Eva Dianawati, S.Ag, M.Ag.
Salah satu narasumber webinar hari ini menyampaikan kajian tentang guru dalam perspektif tasawuf yang di sampaikan oleh Bapak Samsudin, SH, M.Si. “Pertama beliau menyampaikan terkait Role Model Guru Segenap Alam, Rasulullah SAW di utus oleh Allah SWT sebagai guru teladan atau Role model bagi segenap umat manusia, karena beliau di utus sebagai rahmatan lil'alamiin untul menyebarkan nilai kebaikan kepada semesta alam. Sebagai seorang role model atau uswah hasanah tentulah harus memiliki karakter yang sempurna dan paripurna dalam menghimpun segala kebaikan dan keteladanan. Sebagai manusia yang di didik langsung oleh Allah SWT melalui nubuwwahnya beliau di kenal sebagai yang berbudi pekerti yang Agung seperti dalam Q.S. Al-Qolam:4”. Demikian tegas samsudin seorang praktisi jurnalis
Menurut Samsudin, Dalam Q.S At-Taubah, karakter Rasulullah SAW sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari jenismu sendiri, Pertama, Ia merasakan dengan payah apa yang menjadi deritamu (empati). Kedua, Ia sangat ingim membawa perbaikan bagimu(reform). Ketiga, Terhadap sesama orang beriman, amat besar cinta kasihnya (Love). Sedangkan dalam Q.S Al-Baqarah yang menjelaskan tentang tugas penting Rasulullah SAW. Sebagimana telah kami utus kepadamu Rasul dari golongan mu. Pertama, Tilawah (Membacakan kepadamu ayat-ayat kami). Kedua, Tazkiyah (mensucikan kamu). Ketiga, Taklim (mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah, mengajarkan yang tak dapat kamu ketahui gaib atau laduni). Di sini kita harus memperhatikan 3 T. Yaitu ada Taklim (kitab dan hikmah, laduni), Tazkiyah (jiwa), Tilawah (ayat-ayatnya)
“Setelah Rasulullah SAW Wafat, untuk melanjutkan tugas Rasulullah mewariskan sanad ilmu dari satu generasi ke generasi lainnya. Orang yang mampu mencontoh pribadi Rasulullah SAW yaitu disebut Ulama yang Haqiqi atau para wali Allah SWT. Mereka mewariskan Ilmu Zhahir, Ilmu Syariat, dan Ilmu Bathin Rasulullah SAW. Untuk melanjutkan tugas Nabi para ulama mewarisi sebagian ilmu dan karakter Rasulullah SAW, yang mereka ambil melalui sanad ilmu yang jelas dan berkesinambungan sehingga sampai pada zaman sekarang ini. Maka, tak heran jika para ulama disebut sebagai pewaris para Nabi dan Rasul. Ulama yang paling mampu meniru dan mencontoh pribadi Rasulullah SAW adalah ulama arifin, yaitu ulama hakiki yang benar-benar mengenal Allah SWT, mereka para Wali Allah yang bertugas membimbing,mendidik, dan Mengajar ilmu-ilmu warisan Rasulullah SAW. Mereka mewarisi ilmu dzahir dan ilmu bathin dari Rasulullah SAW, secara bersanad dan tersambung kepada Rasulullah SAW mereka itulah para guru mursyid dalam berbagai tarekat yang tersebar luas di berbagai Negara dari satu generasi ke generasi berikutnya sampai saat ini.” Demikian dikemukakan samsudin dosen pengajar kepemimpinan Pendidikan Islam di STAI MAA
Dalam Q.S An-Nisa ayat 59, Allah SWT berfirman “wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad SAW), dan Ulil Amri (Pemegang kekuasaan) diantara kamu, kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.” Ada 3 Sumber Agama Islam Versi Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup kita adalah : Allah , Rasulullah, dan Ulil Amr (penguasa).
Sedangkan Sumber Agama Islam Versi Al-Hadist dalam Hadist Riwayat At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad) dalam percakapan antara Rasulullah SAW dan Muadz bin Jabal sebelum pergi ke yaman Rasulullah SAW bertanya kepada sahabatnya : “ dengan apa kamu membuat keputusan nanti?” lalu beliau menjawab bahwa dengan kitabullah adalah sebagai sumber keputusan, lalu rasulullah bertanya kembali : “jika tidak ada kitabullah?”, lalu beliau menjawab dengan Sunnah Rasulullah, lalu Rasullah bertanya lagi : “jika tidak ada Sunnah Rasulullah?”, dan akhir jawaban beliau adalah ku ijtihadkan rayu-ku. Bukan sampai di sini saja adapun sumber agama islam seperti yang di bawah ini: (Al-Qur'an) :Allah, Rasulullah, Ulil Amr. Dan (Al-Hadits) :Kitabullah , Sunah Rasul, Ijtihad, atau ijma.
Wali Mursyid ( Para Ulama ) mereka mengemban tugas dengan karakter Rasulullah SAW, ada Wali=Non Mursyid /Mursyid dan Mursyid= Wali /Non Wali. Tugas wali mursyid meluruskan Ilmu Zahirnya dan Ilmu Bathinnya Rasulullah SAW secara berkesinambungan tentu tidak bisa di baca pada teks tetapi harus dengan cara memahaminya jadi jika tidak mengetahui suatu ilmu harus bertanya kepada ahlinya atau pewaris para ilmu.
Pentingnya Waliyullah Waratsatul Anbiya yaitu dia pemimpin, dia pembimbing, dia murobbi atau pendidik jadi biacara tentang waliyullah berarti ilmunya luar biasa.
“Wajib mendapatkan guru Mursyid. Dalam Q.S Al- Kahfi ayat 17, Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang di beri petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkannya maka engaku tidak akan mendapatkan "wali Mursyid"(seorang penolong yang dapat memberi petunjuk jalan kepadanya). Seorang guru mursyid adalah ulama pewaris Rasulullah saw yang memiliki ilmu dan akhlak kenabian yang diutus kepada kaum sufi untuk membimbing mereka ke jalan Allah melalui tarekat .Para guru mursyid membimbing kaum sufi dengan menanamkan talqin dzikir kalimat takwa atau kalimat Laailaahaillallah dapat menghidupkan hati sang murid, dan hidupnya hati berupa perolehan ilmu makrifah dan kedekatan kepada Allah. Jadi peran guru dalam perspektif tasawuf ini sangat penting urgensi dan peran guru dalam tasawuf atau tarekat yang dalam mentarbiyah murid-muridnya berorientasi pada pendidikan menghidupkan hati dan makrifatullah atau memperkenalkan manusia kepada Tuhan-Nya. Jadi tujuan pendidikan dalam konteks tasawuf bukan sekedar mencerdaskan manusia, tetapi yang jauh lebih penting adalah mendidik hati manusia dan memperkenalkan mereka ketika Allah sebagai dzat yang menciptakan, menghidupkannya dan memberikan rizkinya.” Papar Samsudin seorang praktisi jurnalis
Umi Salamah Mahasiswi STAI Muslim Asia Afrika Semester 5

Comments
Post a Comment