LAYLA & MAJNUN - PERCINTAAN
LAYLA & MAJNUN
Ustadz Adli Al - Qorni
Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa kisah ini merupakan perumpamaan dari penyair, yang mengibaratkan orang yang jatuh cinta adalah Layla, sementara yang tergila-gila akan kecintaannya adalah Qais yang disebut sebagai majnun karena kegilaannya akan cinta. Mereka berdua berasal dari Bani qilab salah satu daripada kakek Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam. Sebagian pula mengatakan bahwa kisahnya nyata namun berakhir dengan cinta yang teragis. Sebagian pula ada yang mengatakan bahwa kisah cinta ini nyata namun biasa saja, tetapi sedikit banyak dibumbui dengan majas, dengan innayah yang membuat cerita ini terkenal sebagaimana kebiasaan seorang penyair.
Para muarifin mulai berbicara kapan mereka berdua mulai hidup, pun beberapa peniliti mulai mencari tahu dimanakah syair yang mulai melibatkan nama Qais dan Layla sehingga ditemukanlah sebuah syair yang sedikit banyak menisbatkan nama Qais. Dimana Qais diceritakan hidup pada abad ke - 7 apabila dilihat daripada syair-syairnya yang mulai bermunculan. Yang mana apabila membahas majnun pun Layla sama sekali tidak masuk ke dalam ilmu pelajaran Aqidah ataupun fiqh namun hanya belajar mengenai ilmu karya sastra.
Dalam syair yang bermunculan pada abad 7 Hijriyah, yakni setelah datangnya Islam, bahwa Qais adalah yang mencintai sementara Layla adalah yang dicintai. Setelahnya pula muncul hikayat-hikayat lainnya tentang mereka di hijaz karena konon dikatakan bahwa Layla pindah ke Hijaz. Yang mana kala itu Arab terbagi menjadi dua yakni salah satunya adalah Arab Mustaribah yang disana terdapat keturunan qilab yang menjadi awal mula Bani Quraisy. Dan dalam Bani Quraisy merupakan kaum yang sangat banyak diikuti bahkan Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam sendiri mengatakan bahwa manusia tidak bisa melepaskan Quraisy, tidak bisa menjadi orang muslim terbaik kecuali mengikuti Quraisy yakni Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam, sementara orang-orang kafir tak jauh berbeda meniru orang-orang kafir Quraisy.
Dan terdapat satu anak dalam Bani Amr yang bernama Qais yang memiliki teman masa kecil bernama Layla sampai dengan tumbuh besar Qais dan Layla berteman. Hingga muncul rasa cinta dalam hati keduanya, Layla mencintai Qais pun Qais mencintai Layla. Yang mana konon katanya ada cinta yang terbiasa ( Mawwadah ) dan adapula cinta yang tidak dibiasakan ( As Saud ). Dan sungguh dalam cinta terdapat hormon yang mampu menimpa seorang pecinta, hanya saja keadaan ini tidak berlangsung lama hanya berlangsung sekiranya selama 12 bulan, sebagaimana para pengantin baru yang memang hanya manis di awal, dan cinta yang disebut sebagai mawwadah adalah cinta yang bukan lagi hanya sekedar diawal saja, cinta ini saling melengkapi. Sementara pada cinta As Saud, yakni cinta yang apabila terpisah semakin jatuh cinta, mereka akan membutuhkan satu sama lain karena perpisahan, bukan karena butuh satu sama lain namun karena antara yang satu dengan yang lain saling mengikat.
Dan yang muncul pada Qais dan Layla adalah cinta mawwadah, Qais diizinkan melamar Layla kala itu, namun dari pihak keluarga Layla menolak lamaran Qais dalam keadaan yang tertentu yang tidak bisa ditebak entah karena ekonomi ataupun hal lainnya. Layla pun tak bisa berbuat apapun, bahkan ketika keluarganya melarang mereka berdua saling bertemu pun memandang dengan mata. Maka karena saking rindunya Qais terhadap Layla, ia pun sampai rela melakukan tawaf bagai mencium Hajar Aswad pada setiap tembok rumah Layla setiap waktu, sampai-sampai orang berkata dan menjulukinya sebagai orang gila yang langsung disanggahnya dengan berkata, "Sungguh aku melewati sebuah rumah yakni rumah Layla dan aku mencium temboknya dan apa yang ada didalamnya, namun pada hakikatnya aku mencium pemilik rumah ini, bukan karena aku mencintai tembok ini namun karena aku mencintai pemilik tembok ini."
Dari pembelajaran diatas ini terdapat beberapa makna, bahwa ketika engkau mencintai seseorang atau sesuatu engkau akan mencintai segala apapun yang berhubungan dengannya, segala sesuatu yang disukainya, pula segala sesuatu yang ia tidak sukai maupun ia benci. Sehingga teori inilah yang kemudian diambil oleh para filsafat dan para sufi, bahwa cintanya Allah diantara hamba-hamba-Nya itu ibarat cinta majnun kepada Layla, sebagaimana Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam berkata, "Cintailah Allah karena Dia yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat-Nya kepada kalian, cintailah aku karena kecintaan kalian kepada Allah, dan cintailah Ahlulbaitku karena kecintaan kalian kepadaku."
Saking pandainya sanggahan Qais dengan syair-syairnya, orang-orang Arab pun tak berani menyanggah beliau kembali karena mereka mengetahui bahwa seorang Qais adalah orang yang pintar. Dimana kala itu di arab orang-orang memang tidak akan menganggu dan menghormati daripada orang yang memang berasal dari bani yang terkenal pun memiliki kepintaran termasuklah pula dalam bersyair.
Kemudian diceritakan karena kegilaannya Qais sang ayah pun membawa Qais berangkat ke Makkah dan bersentuhan dengan Hajar Aswad pun pintunya, Qais datang dan memeluk sebagaimana yang diperintahkan sang ayah yang meminta kepadanya untuk berdoa menghilangkan cinta Layla kepadanya, namun beliau justru berdoa kebalikannya, dimana Qais berkata dalam doanya, "Duhai Allah, tambahkanlah rasa cintaku kepada Laila. Tambahkanlah bebanku demi Laila. Janganlah Engkau membuat aku lupa mengingatnya untuk selama–lamanya!" hingga bertambahlah rasa cinta itu dalam hatinya bahkan terbawa hingga kematian menjemputnya bersama para keluarga Qais. Sehingga dikatakan bahwa Qais meninggal dalam mahabbah kepada Layla, dan dalam keadaan syahid.
Sebagaimana Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam bersabda dalam hadits shahih,
(من عشق فكتم وعف ومات مات شهيدا) قال ابن عربي : العشق التقاء الحب بالمحب حتى خالط جميع أجزائه واشتمل عليه اشتمال الصماء.
“Barangsiapa yang jatuh cinta lantas dia menahannya hingga ia mati, maka dia mati syahid.”
Dan cinta yang dimaksud itu hanyalah sebatas cinta kepada orang-orang awam, lalu bayangkan bagaimana jika cinta itu justru jatuh kepada para keturunan Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam, kepada Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam, pun kepada Allah yang bahkan sampai kematian menjemputnya.
Jawaban dari beberapa pernyataan :
Ketika kita bicara badan maka kita bicara hukum, sementara ketika kita bicara hati kita bicara rasa. Yang mana orang tasawuf itu jika membicarakan soal rasa maka tidak akan mampu digambarkan hanya bisa dipermisalkan saja, yang ketika cinta dibahas maka tasawuf mempermisalkan dengan Layla dan Majnun. Sementara pada taubat diibaratkan seperti seorang anak yang kembali dalam pelukan ibunya setelah sekian lama sebagaimana yang dikatakan Imam Al - Ghazali.
Sungguh permisalan lebih banyak dipahami/lebih fasih dibandingkan hakikat.
Orang-orang tasawuf mengatakan bahwa tarbiyah haruslah memiliki izin mentarbiyahi, apabila ia tidak memiliki izin maka terkadang tidak akan muncul berkah atau terdapat sesuatu yang hilang darinya.
📝 Ay_Zakha

Comments
Post a Comment