DARS RISALATUL MUAWANAH
DARS RISALATUL MUAWANAH
Ustadzah Dara Husein
BAB SHALAT
Dikatakan oleh Imam Al - Haddad bahwa hendaknya seseorang itu shalat tepat waktu, terlebih apabila telah sampai didalam masjid maka sudah seharusnya ia duduk dengan telah membawa wudhu, ataupun ketika semisalnya tidak bisa melakukan hal tersebut, hendaknya ketika azan berkumandang segeralah bersiap untuk melakukan wudhu dan bersegara dalam melaksanakan shalat.
Jangan sampai melaksanakan shalat diakhir waktu terlebih meninggalkan shalat dengan mudahnya, sudah sering mengulur waktu tetapi juga seringkali meninggalkan. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang shalat diawal waktu sebagaimana mereka mengutamakan akhirat dibandingkan dunia, dimana orang-orang yang shalat diawal waktu maka mereka akan mendapatkan ridho Allah, sementara bagi orang-orang yang melaksanakan shalat diakhir waktu maka Allah akan mengampuni dosa mereka. Itulah perbedaan diantara keduanya.
Siapkan sambutan yang baik sebagaimana Allah menjamu dan memanggil setiap hamba dengan cara terbaik. Maka apa susahnya bagi diri ini sendiri untuk menyambut panggilannya dengan cara paling baik pula. Dimana dengan shalat diawal waktu terlebih menyiapkan diri bahkan sebelum Allah memanggil kita, niscaya inilah yang akan menghadirkan hati dalam shalat.
Dan sejatinya seseorang yang sudah merasakan manisnya shalat, pastilah ia akan sangat betah berlama-lama dalam melaksanakan shalat, sebab dia telah mendapatkan sesuatu yang sangat spesial dibandingkan apa yang telah ia dapatkan didunia. Maka tanyakan pada diri sendiri sudahkah diri ini merasakan manisnya shalat yang terlaksana?
Imam Al-Haddad pula berkata, hendaknya seseorang menjaga shalat sunnah rawatib guna menyempurnakan shalat wajibnya. Dan sesungguhnya mereka yang melaksanakan shalat itu sudah sepatutnya khusyu dalam melakukannya, bukan sekedar menghadirkan hati semata yakni menghadirkan ketenangan, segala apapun terjadi diluar shalatnya ia tak akan memperhatikan, inilah orang yang shalat hatinya telah terpaut begitu pun pandangan dan segalanya telah tertuju hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dimana hendaknya pula seseorang yang shalat itu menghadirkan hatinya, perbaiki diri dan berserah seakan-akan itu adalah shalat terakhir, pun memahami dengan baik segala sesuatu yang kita ucapkan dalam shalat.
Jika semisal dalam shalat kita justru terbayang-bayang sesuatu maka perlu dipertanyakan kebenaran dari shalat tersebut. Pun hendaknya menjaga segala adab ketika shalat, janganlah terburu-buru ketika melaksanakannya sebagaimana kita duduk dihadapan seorang guru yang juga takut ketika melakukan kesalahan begitupun ketika kita bersimpuh kepadaNya. Dan mereka yang melakukan segala kebaikan dalam shalat, melakukan segala adab, maka niscaya ia akan keluar dari shalat dalam keadaan putih, bersih dan bercahaya.
Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam bersabda, "Orang yang betul dalam shalat maka ia akan melakukannya dengan akal dan benar-benar bergantung kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala," yang mana dikatakan oleh Imam Hasan Al- Basri, "Orang yang melaksanakan shalat namun hati kita tidak hadir didalamnya maka inilah yang akan mempercepat datangnya siksaan yang Allah berikan."
Dan sesungguhnya setan itu bertugas untuk membuat manusia sibuk dengan urusan ataupun pemikiran yang lain ketika melaksanakan shalat, mereka sangat senang ketika manusia tidak menghadirkan hati mereka dalam shalat. Sehingga seandainya manusia justru mengikuti godaan setan maka boleh jadi shalat itu tidaklah mendatangkan pahala, melainkan dosa. Maka untuk menghindari hal tersebut para ulama menganjurkan untuk membaca surah An-Nas.
Pun rutinkan diri untuk membaca surah-surah tertentu setelah membaca surah Al-fatihah dalam shalat, entah itu membaca ayat sajdah, Al-kafirun, dan Al-Ikhlas. Jangan dibiasakan mengulang-ulang surat hanya untuk memperpendek waktu shalat. Imam Al-Haddad pula berkata untuk meringankan apa yang kita baca namun terdapat keinginan memperpanjang shalat, maka hendaknya membaca surah yang paling panjang seperti surah Al-A'la.

Comments
Post a Comment