Ustadzah Dara Husaien Hakikat Cinta Sang Purnama

 Majelis Perindu Syurga - Night of Love

13 Rabi'ul awal 1444 H/ Ahad, 09 Okt 2022.

Ustadzah Dara Husaien 

Hakikat Cinta Sang Purnama



○Bila ada yang mengatakan defenisi cinta itu sering menyebut yang dicintainya. Maka Rasulullah saw melakukan itu, beliau saw sering sekali menyebut kita, umatnya. Bahkan di hari terakhir beliau saw, ketika sedang sakaratul maut, beliau saw masih menyebut kita, umatnya, masih memikirkan kita, umatnya, beliau berkata "Wahai Jibril a.s sakit ya sakaratul maut ini, apakah nanti umatku juga merasakan ini?" "Iya wahai Nabi saw" jawab malaikat Jibril a.s. Lalu Rasulullah saw seraya sedih mengatakan "Wahai Jibril a.s rasa sakit ini timpakan untukku saja, jangan umatku, biarkan aku saja yang menderita, jangan umatku". Hingga akhir beliau berkata "Ummati...Ummati...". Bahkan nanti di akhirat, yang pertama sekali disebut dan dicari oleh Rasulullah saw adalah umatnya, hingga beliau rela bersujud kepada Allah, menyebut kita, umatnya, dan memohon kan ampun kepada Allah, rela bersujud untuk umatnya yang berdosa. Tidak ada yang mau sujud untuk kita, tapi Rasulullah saw melakukan itu.


○Bila ada yang mengatakan defenisi cinta itu adalah sering terngiang akan yang dicinta. Maka Rasulullah saw juga melakukan nya, betapa beliau selalu teringatkan akan kita, umatnya. 


Dulu ketika Rasulullah saw sedang berkumpul bersama para sahabat, beliau Saw memejamkan matanya, lalu beliau saw membuka matanya sambil menengadah agak ke atas, dan berkata:  "Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku)." Kemudian para sahabat bertanya: "Apakah maksud engkau berkata demikian, wahai Rasulullah ? Bukankah kami ini saudara-saudaramu? 


Saydina Abu Bakar r.a bertanya melepaskan teka-teki yang mulai memenuhi pikirannya. Rasulullah saw menggelengkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum, kemudian bersabda: "Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku, tetapi bukan saudara-saudaraku." Suara Baginda Rasulullah bernada rendah. 

. Lalu kata sahabat yang lain "Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah"


Rasulullah saw melanjutkan sabdanya: "Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku, tetapi mereka beriman padaku dan mereka mencintaiku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku." (Ibnu Asakir 30/137, Kanzul Ummal, 14/48)


○Bila ada yang mengatakan defenisi cinta itu adalah menunggu. Maka Rasulullah saw juga melakukan itu, beliau menunggu kita. Rasulullah saw menunggu kita di tiga tempat

○​Menunggu kita bahkan sebelum kita ada.

○Menunggu kita ketika sudah di dunia. Rasulullah saw menunggu bagaimana umat2nya menyebut nama beliau saw, menunggu salam dari umatnya, dan menunggu setoran amalan umatnya, untuk beliau saw disyukuri akan Allah atau dimintakan ampun untuk kita, umatnya

○Menunggu kita untuk sama Menunggu kita untuk sama2 di Syurga. Rasulullah saw menunggu kita di mizan, di sirath, di haudh. Beliau saw menunggu satu per satu umatnya. Beliau saw adalah orang yang paling terakhir istirahat di akhirat nanti, mencari, kesan kemari, berlari, beliau berkeliling, hingga ke neraka, mencari umatnya satu per satu dan beliau saw mengulurkan tangannya untuk dapat digapai umatnya agar keluar dari neraka, beliau berusaha sekuat tenaga untuk memastikan semuanya aman. Memastikan agar semuanya dapat bersama di Syurga. 


Coba fikirkan, cinta macam apa ini? Cinta yang sedemikian luarbiasa, dalam hal mencintai kita, Rasulullah saw lah pemenangnya. Rasulullah saw tidak pernah tawar menawar dalam cinta. Sedemikian besar cintanya Rasulullah saw untuk kita, umatnya yang belum tentu dan tidak semua memikirkan nya.


Sekarang pertanyaan nya, 

Dengan seringnya Rasulullah saw mengingat kita, seberapa sering kita mengingat beliau saw? Adakah pernah kita mengingatnya? 

​Dengan seringnya Rasulullah saw. Dengan seringnya Rasulullah saw menyebut kita, umatnya, kemudian seberapa sering kita menyebut nama beliau saw?

​Dengan cinta yang sedemikian besar dari Rasulullah saw untuk kita, lalu seberapa besar rasa cinta kita untuk beliau saw? Adakah cinta untuk Nabi saw di hati kita? Adakah cinta itu? 


Sudah saatnya kita menjadi seorang yang menyenangkan hatinya Nabi Muhammad saw, bukan menjadi yang terus menerus membuatnya lelah. Sudah saatnya kita menjadi umat yang mengikuti nya baik dalam setiap gerak gerik dan diamnya kita. Sudah seharusnya kita terus mengingatnya, menyebut nya, dan menyuburkan cinta untuknya yang selalu mencintai kita semenjak kita belum ada hingga saat ini, beliau saw, Nabinya kita saw, Rasul nya kita saw, terus mencintai kita bahkan hingga hari akhirat nanti... ❤️


Wallahu a'lam bi asshawab. 

Comments

Popular posts from this blog

USTADZAH FADHILLAH ULFA

KH ABU HASAN SYADZILI ASKANDAR DAN POHON MANGGA

Ning balqis iskandar – Nawaning Nusantara